Percepatan Pemulihan Dengan Teknologi Pengasapan Ikan untuk Livelihood Masyarakat Maluku

by -179 views

Ambon – Kegiatan percepatan pemulihan pengungsi terdampak gempa Maluku terus dilakukan, dengan melibatkan unsur Universitas.

Seperti kegiatan yang digelar Universitas Pattimura (Unpati) Ambon, berupa pertemuan dengan tema Penerapan Teknologi Asap Cair dalam pengawetan ikan, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan melalui pemberdayaan pengungsi, di Gedung Rektorat Unpati Ambon, Rabu (18/12/2019).

Kegiatan tersebut merupakan bentuk perwujudan konsep Pentahelix, pelibatan lima unsur dalam kegiatan penanggulangan bencana yaitu pemerintah, masyarakat, akademisi/intelektual, dunia usaha dan media.

Rektor Universitas Pattimura, Prof  M J Sapteno mengungkapkan, inovasi tersebut sudah ada namun belum sempat diperkenalkan kepada Presiden sewaktu kunjungan ke Maluku November silam.

Menurutnya, saat kepala BNPB yang menanyakan program untuk keberlanjutan hidup masyarakat terdampak bencana gempa kepada Unpatti, segera direspon dengan rencana pemberdayaan ekonomi melalui teknologi asap cair untuk memproduksi ikan asap.

“Maluku ini banyak sumber daya, namun bagaimana cara mengawetkan seperti ikan sudah kami kembangkan” ujar Rektor.

Melalui Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpati, inovasi teknologi asap cair sudah dipatenkan dan memiliki kelebihan tersendiri, dibandingkan dengan cara pengasapan ikan tradisional.

Sementara itu, Dr Danny sebagai tim ahli sekaligus pengajar FPIK Unpatti menjelaskan, teknologi asap cair dalam memproduksi ikan asap lebih higienis, lebih memberi aroma dan warna (kenampakan) ikan, serta memberi citarasa spesifik asap untuk ikan yang akan diasapkan.

Ikan asap atau ikan asar sebutan masyarakat Maluku katanya, dapat menggunakan ikan cakalang, ikan tuna atau juga ikan layang.  Sementara bahan material kayu untuk membuat asap cair, diarahkan menggunakan waa sagu (kulit batang pohon sagu) atau bisa juga kelapa.

Menurutnya, keunggulan batang sagu, karena unggul dari tingkat keasamannya sementara kelapa kadar fenol tinggi dan lebih banyak antioksidan.

“Prinsip pembuatan asap cair, yaitu kondensasi (pendinginan) asap hasil pirolisis (pendinginan asap pembakaran bahan material kayu) yang bertingkat, sementara membuat ikan asap cukup mengoven ikan-ikan yang sudah direndam dengan larutan asap cair tersebut,”jelas Danny.

Hadir dalam pertemuan tersebut direktur Penanganan Pengungsi Badan Nasional Penangggulangan Bencana (BNPB), Johny Sumbung, perwakilan direktorat Sosial Ekonomi Kedeputian Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BPBD Provinsi Maluku, BPBD Kota Ambon, BPBD Kabupaten Seram Bagian Barat dan BPBD Kabupaten Maluku Tengah serta jajaran pimpinan Unpatti.

Direktur Penanganan Pengungsi BNPB, Johny Sumbung menegaskan, pentingnya keterlibatan universitas dalam memberdayakan masyarakat khususnya terdampak bencana dan pengungsi, sehingga turut mempercepat pemulihan.

“Pihak Universitas penting terlibat untuk mendorong percepatan pemulihan di Maluku, khususnya bagaimana pemberdayaan ekonomi kedepan dengan inovasi teknologi yang dimilikinya,”pungkas Johny.

Beberapa masukan terkait implementasi teknologi tersebut didiskusikan peserta rapat mulai dari perbaikan teknis proposal, penambahan mekanisme pembuatan produk, efektifitas produksi, mekanisme pembiayaan hingga pelibatan masyarakat yang dapat menjangkau tiga kabupaten terdampak bencana gempa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *